Monday, April 29, 2013

Over?

Beberapa hari terakhir semesta seakan berkonspirasi menghadapkan saya dengan berbagai masalah, menempatkan saya di persimpangan jalan yang setiap tikungannya sangat tajam.
Ga ngerti kenapa, apa karena saya sudah terlalu lama merasa bahagia sehingga saat ini harus menerima setumpuk buku baru dan hanya berisi coretan hitam yang berantakan? Skenario Tuhan memang misteri.
Untuk kesekian kalinya, saya juga harus terima dengan kenyataan yang pahit, sepahit kopi hitam yang dinikmati saat pagi hari mendung.
Dia, kesayanganku yang mulai menganggap saya sampah -lagi- mungkin sudah bosan dengan cerita kita dan akhirnya mencari barang baru untuk dijadikan kekasih, melampiaskan bosannya, memberi misteri, dan akhirnya sampai dititik jenuhnya, lalu dia anggap semuanya selesai, merasa wanita itu hanya bekas, terakhir wanita itu ia lepas begitu saja dan dibuang. Kamu kejam ya?
Harusnya saya tau kalo akhirnya selalu jadi seperti ini tapi entah kenapa sikap saya hanya bisa diam, tersenyum, dan bilang "Sudahlah, lupain aja. Kamu ga salah. Aku maafin kamu kok"
Apa saya terlalu baik? Atau terlalu idiot dan bodoh?
Dan akhirnya otak saya bisa berpikir waras mengajak kerja sama Hati untuk berhenti bekerja mengharap kamu dan juga meninggalkan kamu. Otak dan Hati saya sama-sama lelah. Lelah karena cerita 2000 hari kita tidak berjalan dengan mulus dan selalu saja menyisakan perih.
Tidak ada tunangan, tidak ada sunrise di Bromo, tidak akan ada memori di Jogja. Lenyap sudah. Dan kamu pemain antagonis yang sangat apik sudah menghancurkan semuanya.
Yah, akhirnya saya menyerah untuk ke-2 kalinya menghadapi kamu yang selalu seperti ini.
Anehnya, kenapa ketika kamu sadar bahwa kamu brengsek saat saya sudah menyerah dan perlahan menghindari arah angin menuju hidupmu? Merengek meminta ampun, memohon saya kembali, dan mengumbar janji lagi dengan tangisanmu yang sangat membuat saya muak!
Dan yang lebih memuakkan, saya selalu termakan janji dan percaya tangismu. Ya Tuhan.
Biarkan saya pergi. Saya mohon dengan amat sangat, biarkan saya pergi ketika kamu hanya memberi tangis bukan bahagia untuk saya.

Terimakasih, teruntuk Kamu 24 yang perlahan hilang hatinya.