Aku pernah berjanji dengan seseorang, bahwa aku akan menulis tentangnya di catatanku ini. Entah ia ingat ataupun tidak, entah ia bisa merasa apa ini sesuai janji ataupun tidak, tapi jika ia mengingatnya mungkin ini sedikit berbeda dengan perjanjian awal.
Jadi, pada awalnya tak satupun syaraf dalam tubuhku peduli padanya. Dan aku anggap ia hanya seorang lelaki biasa yang akan mengajari banyak hal baru dalam ruang luas di otakku yang tiap waktunya ingin dipenuhi akan hal baru. Iya, itu semua benar.
Ribuan detik sudah yang terlewati dengan bersamanya. Kopi pertama pada jum'at saat itupun aku masih ingat. Yang awalnya aku hanya bercanda memintanya ternyata ia memberiku dengan nyata. Terimakasih, aku ucapkan sekali lagi terimakasih.
Ketika obrolan-obrolan yang tidak penting tapi sanggup buatku tertawa, aku masih mengingatnya.
Ketika dia memakan kue yang tak sepenuhnya buatanku, lalu aku menemaninya bermain dengan seorang yang lain di hari minggu siang itu dan akhirnya pergi makan bersama.. aku masih ingat gelak tawa dan lengkungan senyumnya hingga candaan dan nasihat yang terukir halus dari bibirnya dihantarkan dengan suaranya yang tidak mudah untuk dilupakan..
Hai, aku bersyukur bahwa aku masih sanggup menyimpannya dengan rapi dalam kumpulan memoriku dengan jelas. Hingga detik dimana jariku menari tuk tuliskan ini semua.
Aku mengenalnya hanya sebatas pucuk jari, mungkin bahkan belum genap 100 hari. Aku pun tak ada harapan yang menginginkan suatu yang beda dari ini semua. Namun waktu tetaplah waktu.
Perlahan aku merasa yang berbeda dalam diriku. Merasa ada yang janggal.
Dan pada akhirnya aku mulai memperhatikan tiap detail dalam dirinya.
Wajahnya ketika dia diam, berfikir, tertawa, tersenyum, ataupun ketika tangannya mengibas rambut bagian poni miringnya, saat mata sipitnya tampak jahil didepanku, selain itu-diapun suka menggumam suatu yang tak jelas untuk didengar saat berjalan, ketika ia menatap lurus kedepan dengan tajam, saat ia mendengarkan lagu Eminem ataupun Jennifer Lopez dan pastinya lebih banyak lagi yang ia suka dengarkan.
Favoritku adalah saat matanya yang berwarna coklat muda itu memandangku ataupun memandang objek lain dengan tenang dan tak berbicara. Dan yang paling tak kusukai darinya adalah ketika matanya berbicara tentang kelelahan dan tak peduli akan apapun seperti halnya tak ada aku didepannya dan tak ada orang satupun di tiap sisi ia berdiri.
Tiba-tiba aku rindu..
Aku rindu ketika aku bisa bercanda, tertawa bebas berdua dengannya
Aku rindu ketika dia berulah padaku entah menarik ujung jilbabku atau memukul pelan dahiku
Aku rindu ketika aku bisa berjalan bersama dengannya ataupun makan bersamanya
Aku rindu semua yang ada dirinya, aku rindu dengan hal-hal yang aku lakukan dengannya
Mungkin menurutnya semua tak berguna untuk disimpan dalam memorinya, karena banyak hal yang lebih penting dari ini semua untuk diingat.
Tapi, benarkah dia sampai tak sedetikpun memikirkan ini semua ?
Atau aku saja yang terlalu berharap dan berkhayal jika dia tiba-tiba memikirkan apa yang kupikirkan dan rindu padaku juga?
Sudahlah, memang hanya sebatas mimpi dan harapan.
Tak akan jadi kenyataan jika dia pun tak menginginkan untuk berfikir akan hal ini.
Namun, yang aku tahu, aku mengaguminya. Sangat dan sangat mengaguminya.
Entahlah dalam segi apa dia sebegitu mengagumkan hingga aku seperti ini
Saat orang lain tahu pun mereka heran dengan tingkahku yang seperti ini dan semua ini karenanya.
Malah terkadang ada sebersit keinginan diriku untuk memilikinya.
Halah, untuk berbicara aku merindukannya secara langsung pun membutuhkan keberanian yang besar, bagaimana bisa aku berbicara bahwa aku mengaguminya dan aku ingin memilikinya? Bahkan saat ini kagumku pun semakin lebih daripada kagum. Haaaa
Gila.
Aku mengaguminya dalam diam, aku menyukainya dalam diam.
Mungkin dia pernah mendengar perasaanku untuknya ini dari orang lain, tapi aku masih menganggap bahwa dia tak pernah dengar apapun tentang perasaanku ini.
Hingga sampai sekarang aku masih agak tenang dalam diamku.
Iya, aku tau. Menyimpan suatu hal dalam hati dengan jangka waktu lama adalah hal yang bodoh dan akan hanya menyakiti hati itu sendiri. Tapi apa boleh buat ?
Aku ingin bicara dengannya namun ia tampak enggan. Aku ingin menyampaikan semua ini tapi aku sendiripun takut untuk berkata. Aku takut semuanya berubah, aku takut ia berubah sikap padaku, menjaga jarak yang ada ketika kita bertemu atau bahkan bersikap tak mengenaliku.
Aku terlalu takut dengan ketakutanku. Aku pengecut. Iya, aku seperti pengecut ketika berhadapan dengannya.
-
Aku bodoh jika memikirkan dirimu.
Sudahlah, yang aku tahu sekarang, siapapun yang membuat bahagia siapapun yang membuatmu tertawa terbahak seperti hari lalu dia pastilah yang paling beruntung karena telah merebut perhatian dan hatimu seluruhnya. Aku hanya bisa turut bahagia..
Dan aku.. sepertinya tetap ingin melanjutkan suka dan kagumku untukmu, dan memang benar tetap dengan keadaan dalam diam ini.
Untuk kau ketahui, aku tetap memperhatikan perubahanmu walaupun tak sedetail dulu, tapi aku cukup senang.
dengan tulus menulis, Fitria Laily Suci Maharini
Terimakasih Kakak :)