Aku duduk terdiam, dalam pojok ruang yang hening, mengaduk pelan kopi dalam cangkir yang berbalut panas dengan khas aromanya. Aku memandang embun di jendela yang perlahan menipis seiring hujan yang hanya tinggal rintiknya.
Pojok ini favoritku, tempat bernostalgia yang paling nikmat ketika diri ingin nyaman dalam sepi.
Perlahan lantunan nada terdengar dari radio usang yang berjarak sedikit jauh dari pojokku.
Melantunkan nada sederhana Firasat dalam suara merdu Marcell..
Membuat rasa ini semakin tenggelam dalam film-film lama yang berputar kembali dalam otak.
Aku sangat menikmati waktu seperti ini, dimana aku bisa memutar balik memori dalam duniaku sendiri, ataupun menciptakan khayalan baru untuk hatiku, entah akan jadi nyata ataupun tidak.
Yang aku tahu, saat ini aku nyaman dan aku suka.
Aku rindu, dalam gapaian lembut saat aku menatap matanya, saat aku bersama dirinya, dan ketika aku mencintanya. Sepertinya tak sekalipun aku bisa merasa satu peluk darinya yang tulus. Ketika aku menunggu dirinya, ia lari dengan dunianya sendiri, tanpa sekalipun berpaling padaku yang sudah lama berdiri menunggu untuk diberinya satu kecupan hangat. Entahlah, ketika aku sadar aku tak diperhatikan aku tetap berdiri tegar. apa terlalu bodoh? Aku rasa tidak. Karena aku menunggunya dalam dasar samudera ketulusan, hingga aku tak menghiraukan siapapun yang melarangku untuk pertahankan perasaan ini
Masih dengan mengaduk isi cangkir yang sudah jadi hangat ini, aku berdiam dan menatap jendela yang dipenuhi embun dalam pandangku. Aku menunggunya, mungkin hingga cangkir ini menjadi dingin, kopi ini tak tersisa, dan pojokku menjadi favorit bagi orang lain.
Aku tak mengaggapnya bahaya untuk rasaku, dan aku tak akan berlari darinya ketika aku sadar bahwa dia sendiri lari dengan dunianya sendiri. Aku tetap menunggu, menunggunya ataupun menunggu untuk menghilang dari separuh bayangnya yang terabaikan.
Di pojokku, aku berharap kita bisa duduk berdua menyeduh kopi hangat ditemani senja berbalut berbalut yang indah.
Tuesday, June 11, 2013
Kupu-Kupu Biru
Kamu siapa? Berani mengusik pikiranku tiap detik tanpa henti
Kamu siapa? Buatku tak sadar bahwa aku hidup dalam nyata, bukan khayal yg kucipta denganmu
Kamu siapa? Yang senyummu selalu hinggap dalam otak dan merefleksikannya sebagai senyum di wajahku
Kamu siapa? Selalu buat diriku merasa terbang melayang dalam lautan bintang di birunya langit
Kamu siapa? Yang selalu bisa menghipnotis mataku agar tak berkedip sedikitpun ketika didepanmu
Kamu siapa? Yang saat ini mengisi satu kursi istimewa di hatiku..
Aku tahu siapa kamu, aku mengenalmu dalam kejapan waktu
banyak waktu yang mengiringi dalam tarian langkahku ketika di sampingmu, aku yang merasa ini semua. entah dirimu iya atau tidak.. masa bodoh dengan kenyataan, saat ini yang terukir dalam pikirku hanyalah;
Aku kagum, aku menyukaimu, dalam barisan kata tak pedulimu yang selalu buatku geregetan tak beralasan
Aku tak peduli dengan tak pedulimu itu, karena yang aku tahu senyum selalu tercipta di wajahku saat ada kamu.
mungkin kamu tahu dengan rasaku ini, dan bertingkah seolah-olah kamu tidak mengerti
Aku juga tahu, aku hanyalah perempuan yang masih beranjak dewasa, mungkin kamu juga menyebutku sebagai 'gadis labil'
namun ketahuilah, aku adalah perempuan dewasa yang bisa romantis dan puitis karena adanya kamu, dan hanya karena kamu.
Untuk saat ini saja memang
karena akupun tak mengerti dan tak tahu, sampai kapan hati ini bisa mempertahankan rasa ini
Mungkin terlihat bodoh diriku bagimu, tapi bagiku tidak
Aku tidak mengharap kamu jadi milikku, tak mengharap kamu membalasnya
aku hanya ingin kamu sadar dan tahu
bahwa aku kagum denganmu tanpa alasan, aku menyukaimu tanpa pinta pamrih setitik kecilpun
Yah, anggap saja tulisan ini hanya sebaris bacaan yang tidak penting
karena mungkin kamu tak sekalipun memikirkan hal yang aku pikirkan
Aku ucap terimakasih untukmu, sudah terlalu banyak kupu-kupu indah yang hinggap dalam mimpiku saat berjalan denganmu. Dan mungkin sekarang kamu harus menangkap mereka semua, sebelum membuka pintu hatiku yang semakin lama semakin melebar hanya karena dirimu.
Terima kasih lagi, kupu-kupu biru.
Kamu siapa? Buatku tak sadar bahwa aku hidup dalam nyata, bukan khayal yg kucipta denganmu
Kamu siapa? Yang senyummu selalu hinggap dalam otak dan merefleksikannya sebagai senyum di wajahku
Kamu siapa? Selalu buat diriku merasa terbang melayang dalam lautan bintang di birunya langit
Kamu siapa? Yang selalu bisa menghipnotis mataku agar tak berkedip sedikitpun ketika didepanmu
Kamu siapa? Yang saat ini mengisi satu kursi istimewa di hatiku..
Aku tahu siapa kamu, aku mengenalmu dalam kejapan waktu
banyak waktu yang mengiringi dalam tarian langkahku ketika di sampingmu, aku yang merasa ini semua. entah dirimu iya atau tidak.. masa bodoh dengan kenyataan, saat ini yang terukir dalam pikirku hanyalah;
Aku kagum, aku menyukaimu, dalam barisan kata tak pedulimu yang selalu buatku geregetan tak beralasan
Aku tak peduli dengan tak pedulimu itu, karena yang aku tahu senyum selalu tercipta di wajahku saat ada kamu.
mungkin kamu tahu dengan rasaku ini, dan bertingkah seolah-olah kamu tidak mengerti
Aku juga tahu, aku hanyalah perempuan yang masih beranjak dewasa, mungkin kamu juga menyebutku sebagai 'gadis labil'
namun ketahuilah, aku adalah perempuan dewasa yang bisa romantis dan puitis karena adanya kamu, dan hanya karena kamu.
Untuk saat ini saja memang
karena akupun tak mengerti dan tak tahu, sampai kapan hati ini bisa mempertahankan rasa ini
Mungkin terlihat bodoh diriku bagimu, tapi bagiku tidak
Aku tidak mengharap kamu jadi milikku, tak mengharap kamu membalasnya
aku hanya ingin kamu sadar dan tahu
bahwa aku kagum denganmu tanpa alasan, aku menyukaimu tanpa pinta pamrih setitik kecilpun
Yah, anggap saja tulisan ini hanya sebaris bacaan yang tidak penting
karena mungkin kamu tak sekalipun memikirkan hal yang aku pikirkan
Aku ucap terimakasih untukmu, sudah terlalu banyak kupu-kupu indah yang hinggap dalam mimpiku saat berjalan denganmu. Dan mungkin sekarang kamu harus menangkap mereka semua, sebelum membuka pintu hatiku yang semakin lama semakin melebar hanya karena dirimu.
Terima kasih lagi, kupu-kupu biru.
Kopi
Kopi itu pahit tanpa adanya gula dan tiadanya kamu di pikirku, namun itu dulu.
Sudah berapa lama aku menggantungkan rasaku padamu selama ini?
2000hari lebih dan kamu hanya anggap itu semua sampah
Aku idiot untuk diriku sendiri, begitu percaya begitu sayangnya
hingga tak merasa bahwa aku terjerumus dalam tipumu
Aku tidak menyesal pernah menyayangimu bahkan mencintamu
Karena aku lakukan itu dengan tulus, tak ada sedikit sakit hatipun dalam diri
namun ada lubang hitam yang besar dipenuhi kecewa karenamu
Sungguh, tak ada rasa benci sebersit pun yang terlintas dalam pikirku
Tidak ada sama sekali
hanya saja, ampunku untukmu sudah habis, maafku untukmu sudah luntur
Aku hanya bisa terdiam ..
ketika melihatmu mengulang kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya
dan pada akhirnya aku harus melepasmu
karena pintamu, bukan pintaku.
Ketika waktu berlalu, detik terus menari tanpa peduli
kamu kembali, memanggilku, memohonku dalam pelukmu
tapi maaf, aku tidak ingin menjadi seorang yang idiot lagi
Kapok menjalar dalam otak, hingga berakar kuat
Seribu kalipun kamu mengucap rindu atas namaku
sekali lagi aku ucap "Maaf"
Tidak ada sejengkal rasapun dalam hati untukmu
Lelah dalam batin sudah terlalu kuat menggerogoti segala rasaku untukmu
mengkikis perlahan semua kenangan manis yang kita buat
Aku tidak berharap melupakanmu, semua tetap tersimpan baik dalam memori
Iya, sebatas memori yang menyimpan kenangan buruk akan dirimu.
Hanya saja ada sebutir rasa yang tertinggal untukmu
Peduli..
Aku tetap peduli denganmu. Bukan karena adanya sayang, tapi aku manusia.
Aku tetap sama seperti makhluk-Nya yang lain. Aku punya nurani
aku tidak akan pernah bisa membenci orang, apalagi membencimu
karena kamu layaknya satu keping dalam hati yang selalu mengisi relungku
namun sekarang, kamu kepingan yang harus aku kunci rapat
tetapi jika kamu datang kembali di hidupku dan buatku muak, maaf kembali
kamu harus menerima benciku yang langka.
Hai kamu,
Kamu, masih kopi pahitku, yang sangat pahit.
Tetapi perlahan menjadi Cappucino, pahit dalam manis.
Yang terkadang masih buatku tersenyum tipis
Untukmu, 24 ku yang lalu
Sudah berapa lama aku menggantungkan rasaku padamu selama ini?
2000hari lebih dan kamu hanya anggap itu semua sampah
Aku idiot untuk diriku sendiri, begitu percaya begitu sayangnya
hingga tak merasa bahwa aku terjerumus dalam tipumu
Aku tidak menyesal pernah menyayangimu bahkan mencintamu
Karena aku lakukan itu dengan tulus, tak ada sedikit sakit hatipun dalam diri
namun ada lubang hitam yang besar dipenuhi kecewa karenamu
Sungguh, tak ada rasa benci sebersit pun yang terlintas dalam pikirku
Tidak ada sama sekali
hanya saja, ampunku untukmu sudah habis, maafku untukmu sudah luntur
Aku hanya bisa terdiam ..
ketika melihatmu mengulang kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya
dan pada akhirnya aku harus melepasmu
karena pintamu, bukan pintaku.
Ketika waktu berlalu, detik terus menari tanpa peduli
kamu kembali, memanggilku, memohonku dalam pelukmu
tapi maaf, aku tidak ingin menjadi seorang yang idiot lagi
Kapok menjalar dalam otak, hingga berakar kuat
Seribu kalipun kamu mengucap rindu atas namaku
sekali lagi aku ucap "Maaf"
Tidak ada sejengkal rasapun dalam hati untukmu
Lelah dalam batin sudah terlalu kuat menggerogoti segala rasaku untukmu
mengkikis perlahan semua kenangan manis yang kita buat
Aku tidak berharap melupakanmu, semua tetap tersimpan baik dalam memori
Iya, sebatas memori yang menyimpan kenangan buruk akan dirimu.
Hanya saja ada sebutir rasa yang tertinggal untukmu
Peduli..
Aku tetap peduli denganmu. Bukan karena adanya sayang, tapi aku manusia.
Aku tetap sama seperti makhluk-Nya yang lain. Aku punya nurani
aku tidak akan pernah bisa membenci orang, apalagi membencimu
karena kamu layaknya satu keping dalam hati yang selalu mengisi relungku
namun sekarang, kamu kepingan yang harus aku kunci rapat
tetapi jika kamu datang kembali di hidupku dan buatku muak, maaf kembali
kamu harus menerima benciku yang langka.
Hai kamu,
Kamu, masih kopi pahitku, yang sangat pahit.
Tetapi perlahan menjadi Cappucino, pahit dalam manis.
Yang terkadang masih buatku tersenyum tipis
Untukmu, 24 ku yang lalu
Thursday, June 6, 2013
Dia (Untukmu, seseorang)
Teka-teki yang hingga sekarang mulai menghembuskan angin bernadakan pedih.
Rangkaian kata yang hanya terpendam dalam angkasa angan kepala
tak mampu untuk meledakkan galaksi rasa ini..
Sepertinya aku menyukaimu dengan kebisuan yang kau sampaikan padaku
sepertinya aku menyukaimu karena aku sering merindukan mu dalam sepiku
aku bahkan tak tahu kenapa aku bertingkah konyol dan mengapa aku bisa menggilaimu saat ini
Dan memang sepertinya aku menyukaimu,
kepada kamu -Dia- yang masih saja tak mengerti perasaanku.
Awalnya matamu dan senyummu tak berarti apa-apa bagiku
tutur katamu bukan menjadi alasan senyumku setiap hari
Semua mengalir begitu saja, kita tertawa bersama tanpa tau
bahwa cinta menyergap hatiku secara perlahan..
Kita saling bercanda, menertawakan diri sendiri tanpa tau
rasa itu menelusup tanpa ragu dan mengisi labirin-labirin di hatiku
Tatapan matamu mulai menjadi hal yang tak biasa dimataku
renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk selalu melengkukan senyum
bahkan ketika candaanmu hanya sebatas gurih kerupuk saja
Aku tau semua berubah menjadi indah sejak waktu memberi tanda
bahwa semuanya mulai menempal erat dalam ingatan dan dinding hatiku
Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doaku
diam-diam aku senang menulis tentangmu
tersenyum tanpa sebab sambil terus menarikan jemariku dalam kertas putih
yang selalu siap menerima namamu di tiap barisnya
Hari-hari ku kini terisi oleh hadirmu
Laju otakku tak mau berhenti memikirkanmu
Aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetesan hemogoblinnya
Berlebihan kan?
Aku biarkan diriku jatuh dalam rindu
aku biarkan diriku tersiksa dalam angan yang aku ciptakan akan dirimu
Aku pun hanya bisa diam
menikmati ini semua walau kadang tercipta rasa sakit
ketika menyadari bahwa semua ini hanyalah angan
dan akan tetap menjadi sebatas angan.
Berharap ini jadi nyata?
Entahlah, aku belum berani membayangkan apa yang harus aku korbankan nanti..
Aku juga tak tau, apakah Angan ini bisa terbang sendirinya menuju satu galaksi yang tak akan pernah bisa aku capai lagi..
Sekali lagi, entahlah.
Yang aku tau saat ini, aku kagum dengan kamu
ada rasa lebih dari pada itu yang terpatri dalam hati ini, entah apa namanya.
Karena untukmu, entah mengapa aku tak pernah berani jujur pada diriku sendiri
Saat ini, perasaanku diselimuti ketakutan yang hebat.
Iya, karena dirimu.
Aku takut menerima kenyataan bahwa sekali lagi hatiku akan rapuh lagi
menjadi kepingan kecil yang tak berbentuk.
Dan ini hanya menunggu waktu, entah kapan aku tak tau.
Hanya saja, untuk saat ini masih banyak kebahagiaan yang kamu sampaikan padaku.
Senyummu, tawamu, itu bahagiaku yang Sederhana.
Terimakasih, untukmu yang memang sampai saat ini belum mengerti semua rasaku.
Perlu kau tau, perasaanku dan cerita ini memang bom waktu untuk diriku.
Apa akhirnya akan menyedihkan atau justru membahagiakan?
Hanya rasamu dan Tuhan lah yang tau bagaimana nantinya ini semua berlabuh pada tempatnya.
Terima Kasih, kamu yang adalah seorang Dia.
Salam hangat // Fitria Maharini, dan teruntuk MbaBel, terimakasih atas Voice Note yang sudah menginspirasi tulisan aku ini. Mungkin banyak yang sama dengan VN-nya, tetapi ada penggubahan sedikit demi sedikit. Sekali lagi, terimakasih MbaBel, peluk cium dari Chelin:")
Rangkaian kata yang hanya terpendam dalam angkasa angan kepala
tak mampu untuk meledakkan galaksi rasa ini..
Sepertinya aku menyukaimu dengan kebisuan yang kau sampaikan padaku
sepertinya aku menyukaimu karena aku sering merindukan mu dalam sepiku
aku bahkan tak tahu kenapa aku bertingkah konyol dan mengapa aku bisa menggilaimu saat ini
Dan memang sepertinya aku menyukaimu,
kepada kamu -Dia- yang masih saja tak mengerti perasaanku.
Awalnya matamu dan senyummu tak berarti apa-apa bagiku
tutur katamu bukan menjadi alasan senyumku setiap hari
Semua mengalir begitu saja, kita tertawa bersama tanpa tau
bahwa cinta menyergap hatiku secara perlahan..
Kita saling bercanda, menertawakan diri sendiri tanpa tau
rasa itu menelusup tanpa ragu dan mengisi labirin-labirin di hatiku
Tatapan matamu mulai menjadi hal yang tak biasa dimataku
renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk selalu melengkukan senyum
bahkan ketika candaanmu hanya sebatas gurih kerupuk saja
Aku tau semua berubah menjadi indah sejak waktu memberi tanda
bahwa semuanya mulai menempal erat dalam ingatan dan dinding hatiku
Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doaku
diam-diam aku senang menulis tentangmu
tersenyum tanpa sebab sambil terus menarikan jemariku dalam kertas putih
yang selalu siap menerima namamu di tiap barisnya
Hari-hari ku kini terisi oleh hadirmu
Laju otakku tak mau berhenti memikirkanmu
Aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetesan hemogoblinnya
Berlebihan kan?
Aku biarkan diriku jatuh dalam rindu
aku biarkan diriku tersiksa dalam angan yang aku ciptakan akan dirimu
Aku pun hanya bisa diam
menikmati ini semua walau kadang tercipta rasa sakit
ketika menyadari bahwa semua ini hanyalah angan
dan akan tetap menjadi sebatas angan.
Berharap ini jadi nyata?
Entahlah, aku belum berani membayangkan apa yang harus aku korbankan nanti..
Aku juga tak tau, apakah Angan ini bisa terbang sendirinya menuju satu galaksi yang tak akan pernah bisa aku capai lagi..
Sekali lagi, entahlah.
Yang aku tau saat ini, aku kagum dengan kamu
ada rasa lebih dari pada itu yang terpatri dalam hati ini, entah apa namanya.
Karena untukmu, entah mengapa aku tak pernah berani jujur pada diriku sendiri
Saat ini, perasaanku diselimuti ketakutan yang hebat.
Iya, karena dirimu.
Aku takut menerima kenyataan bahwa sekali lagi hatiku akan rapuh lagi
menjadi kepingan kecil yang tak berbentuk.
Dan ini hanya menunggu waktu, entah kapan aku tak tau.
Hanya saja, untuk saat ini masih banyak kebahagiaan yang kamu sampaikan padaku.
Senyummu, tawamu, itu bahagiaku yang Sederhana.
Terimakasih, untukmu yang memang sampai saat ini belum mengerti semua rasaku.
Perlu kau tau, perasaanku dan cerita ini memang bom waktu untuk diriku.
Apa akhirnya akan menyedihkan atau justru membahagiakan?
Hanya rasamu dan Tuhan lah yang tau bagaimana nantinya ini semua berlabuh pada tempatnya.
Terima Kasih, kamu yang adalah seorang Dia.
Salam hangat // Fitria Maharini, dan teruntuk MbaBel, terimakasih atas Voice Note yang sudah menginspirasi tulisan aku ini. Mungkin banyak yang sama dengan VN-nya, tetapi ada penggubahan sedikit demi sedikit. Sekali lagi, terimakasih MbaBel, peluk cium dari Chelin:")
Saturday, June 1, 2013
Fall
Soundtrack tulisan kali ini; Justin Bieber - Fall
Entahlah, sedang jatuh cinta sekali dengan lagu ini. Mungkin karena manunggal, cocok dengan perasaan yang sekarang. Maunya nyerah, tapi hati tetap maksa. Eh, tapi bukan masuk banget ke inti lagunya itu sih he he.
Hati maksa buat maju-dan tetap melarang Otak untuk melarangnya berhenti.
Egois. Atau idiot? Sebenernya uda ngerti endingnya bakal kayak gimana ini,
tapi mau digimanain lagi? Bandel sih, padahal nanti jadinya sakit :))
Hatipun maunya cuma diam, mendayung kano di danau yang tenang dan ga ada air terjun didepannya yang nanti bakal bikin dia jatuh atau terbalik. Eh? Atau emang belum dikasih jalan ke air terjun itu ya? Yah intinya sih cuma diam dan berhenti di tempat. Stuck.
Mau ngomong takut, kalo ga diomongin juga sakit. Duh serba salah.
Jadi ya akhirnya milih diem, ga guna juga sih tapi hahahahaha. Bye
Diri mengakui, Skenario Tuhan yang ini sangat berlagukan misteri. Ada ekspektasi seperti itu eh jadinya seperti ini. Ngarep itu eh yang dipengen ga "ngeh". Jadi harus gimana?
Apa harus curhat dulu ke Justin Bieber terus dibikinin lagu dan "Dia" disuruh dengerin lagu itu biar ngerti perasaan ini apa harus gimana sih? Halah ribet.
Walaupun bikin bingung, tapi juga bahagia karena disaat semua masalah bikin stres setengah gila, Senja di beberapa waktu ini setia banget bikin seneng, selalu indah walaupun sebelumnya selalu ada Hujan yang lagi marah dan ga bersahabat dan bikin semuanya berantakan. Dua kolaborasi luar biasa diiringi dengan tangga warna Pelangi yang indah di setiap sela. Terimakasih Tuhan, hal-hal inilah yang selalu bikin jadi kalem dan kalem lagi.
Dan dari semua ini masih tetap sama topiknya "Hati yang ingin berjalan sendiri dan Otak yang hanya mengintai dari kejauhan dan cuma diam"
Kamu yang maksa ya Hati, jangan marah ke siapapun, jangan salahin siapapun kalo pada akhirnya kamu patah lagi, dan ga bakal ada pola wajah siapapun yang cukup utuh untuk terbentuk, sekalipun itu wajah dia. Karena kamu yang bikin semua ini ribet dan jauh dari ujung penyelasaian.
Ah sudahlah, ikuti saja permainan waktu. Terima kasih.
Entahlah, sedang jatuh cinta sekali dengan lagu ini. Mungkin karena manunggal, cocok dengan perasaan yang sekarang. Maunya nyerah, tapi hati tetap maksa. Eh, tapi bukan masuk banget ke inti lagunya itu sih he he.
Hati maksa buat maju-dan tetap melarang Otak untuk melarangnya berhenti.
Egois. Atau idiot? Sebenernya uda ngerti endingnya bakal kayak gimana ini,
tapi mau digimanain lagi? Bandel sih, padahal nanti jadinya sakit :))
Hatipun maunya cuma diam, mendayung kano di danau yang tenang dan ga ada air terjun didepannya yang nanti bakal bikin dia jatuh atau terbalik. Eh? Atau emang belum dikasih jalan ke air terjun itu ya? Yah intinya sih cuma diam dan berhenti di tempat. Stuck.
Mau ngomong takut, kalo ga diomongin juga sakit. Duh serba salah.
Jadi ya akhirnya milih diem, ga guna juga sih tapi hahahahaha. Bye
Diri mengakui, Skenario Tuhan yang ini sangat berlagukan misteri. Ada ekspektasi seperti itu eh jadinya seperti ini. Ngarep itu eh yang dipengen ga "ngeh". Jadi harus gimana?
Apa harus curhat dulu ke Justin Bieber terus dibikinin lagu dan "Dia" disuruh dengerin lagu itu biar ngerti perasaan ini apa harus gimana sih? Halah ribet.
Walaupun bikin bingung, tapi juga bahagia karena disaat semua masalah bikin stres setengah gila, Senja di beberapa waktu ini setia banget bikin seneng, selalu indah walaupun sebelumnya selalu ada Hujan yang lagi marah dan ga bersahabat dan bikin semuanya berantakan. Dua kolaborasi luar biasa diiringi dengan tangga warna Pelangi yang indah di setiap sela. Terimakasih Tuhan, hal-hal inilah yang selalu bikin jadi kalem dan kalem lagi.
Dan dari semua ini masih tetap sama topiknya "Hati yang ingin berjalan sendiri dan Otak yang hanya mengintai dari kejauhan dan cuma diam"
Kamu yang maksa ya Hati, jangan marah ke siapapun, jangan salahin siapapun kalo pada akhirnya kamu patah lagi, dan ga bakal ada pola wajah siapapun yang cukup utuh untuk terbentuk, sekalipun itu wajah dia. Karena kamu yang bikin semua ini ribet dan jauh dari ujung penyelasaian.
Ah sudahlah, ikuti saja permainan waktu. Terima kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)