Thursday, June 6, 2013

Dia (Untukmu, seseorang)

Teka-teki yang hingga sekarang mulai menghembuskan angin bernadakan pedih.
Rangkaian kata yang hanya terpendam dalam angkasa angan kepala
tak mampu untuk meledakkan galaksi rasa ini..

Sepertinya aku menyukaimu dengan kebisuan yang kau sampaikan padaku
sepertinya aku menyukaimu karena aku sering merindukan mu dalam sepiku
aku bahkan tak tahu kenapa aku bertingkah konyol dan mengapa aku bisa menggilaimu saat ini

Dan memang sepertinya aku menyukaimu,
kepada kamu -Dia- yang masih saja tak mengerti perasaanku.
Awalnya matamu dan senyummu tak berarti apa-apa bagiku
tutur katamu bukan menjadi alasan senyumku setiap hari
Semua mengalir begitu saja, kita tertawa bersama tanpa tau
bahwa cinta menyergap hatiku secara perlahan..
Kita saling bercanda, menertawakan diri sendiri tanpa tau
rasa itu menelusup tanpa ragu dan mengisi labirin-labirin di hatiku
Tatapan matamu mulai menjadi hal yang tak biasa dimataku
renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk selalu melengkukan senyum
bahkan ketika candaanmu hanya sebatas gurih kerupuk saja
Aku tau semua berubah menjadi indah sejak waktu memberi tanda
bahwa semuanya mulai menempal erat dalam ingatan dan dinding hatiku 

Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doaku
diam-diam aku senang menulis tentangmu
tersenyum tanpa sebab sambil terus menarikan jemariku dalam kertas putih
yang selalu siap menerima namamu di tiap barisnya
Hari-hari ku kini terisi oleh hadirmu
Laju otakku tak mau berhenti memikirkanmu
Aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetesan hemogoblinnya
Berlebihan kan?

Aku biarkan diriku jatuh dalam rindu
aku biarkan diriku tersiksa dalam angan yang aku ciptakan akan dirimu
Aku pun hanya bisa diam
menikmati ini semua walau kadang tercipta rasa sakit
ketika menyadari bahwa semua ini hanyalah angan
dan akan tetap menjadi sebatas angan.

Berharap ini jadi nyata?
Entahlah, aku belum berani membayangkan apa yang harus aku korbankan nanti..
Aku juga tak tau, apakah Angan ini bisa terbang sendirinya menuju satu galaksi yang tak akan pernah bisa aku capai lagi..
Sekali lagi, entahlah.
Yang aku tau saat ini, aku kagum dengan kamu
ada rasa lebih dari pada itu yang terpatri dalam hati ini, entah apa namanya.
Karena untukmu, entah mengapa aku tak pernah berani jujur pada diriku sendiri
Saat ini, perasaanku diselimuti ketakutan yang hebat.
Iya, karena dirimu.
Aku takut menerima kenyataan bahwa sekali lagi hatiku akan rapuh lagi
menjadi kepingan kecil yang tak berbentuk.

Dan ini hanya menunggu waktu, entah kapan aku tak tau.
Hanya saja, untuk saat ini masih banyak kebahagiaan yang kamu sampaikan padaku.
Senyummu, tawamu, itu bahagiaku yang Sederhana.
Terimakasih, untukmu yang memang sampai saat ini belum mengerti semua rasaku.
Perlu kau tau, perasaanku dan cerita ini memang bom waktu untuk diriku.
Apa akhirnya akan menyedihkan atau justru membahagiakan?
Hanya rasamu dan Tuhan lah yang tau bagaimana nantinya ini semua berlabuh pada tempatnya.
Terima Kasih, kamu yang adalah seorang Dia.


Salam hangat // Fitria Maharini, dan teruntuk MbaBel, terimakasih atas Voice Note yang sudah menginspirasi tulisan aku ini. Mungkin banyak yang sama dengan VN-nya, tetapi ada penggubahan sedikit demi sedikit. Sekali lagi, terimakasih MbaBel, peluk cium dari Chelin:")

No comments:

Post a Comment