23 Mei 2013,
Senja hari ini indah sekali
benar-benar bisa membuat orang yang melihatnya, seketika akan jatuh hati, dan memohon pada Tuhan agar tersimpan dalam kotak memori diri yang
beralunkan nada anggun dan bahagia. Namun dibalik Senja milik Tuhan yang indah
hari ini, tersimpan duka dalam rintikan hujan. Dua hal yang saya cintai
Senja&Hujan berkolaborasi bersama menampakan keindahan serta kepedihan
tiada tara seakan mengerti bahwa saat ini terlalu sulit untuk bahagia bagi relung hati yang tak sanggup menahan pedihnya.
Pagi yang berawal dengan tawa
haruskah ditemani dengan tangis? Sore manis ditemani senja yang memukau
haruskah Hujan merintik sedih? Alam mengerti, Tuhan mengerti. Saat ini banyak
sudah hati orang yang terpuruk, air mata merintih, tangan mengepal tanda menyesel kehilangan..
ketika melihat ‘beliau” orang terdekat-tersayang
kita- senyum ramahnya telah hilang untuk selamanya, tangan halus yang selalu
dijabat dan diselingi kata “Barakallah” tak akan bisa dijamah, nasihat
bijaknya tak akan bisa didengar, hentakan kaki yang tegap dan berhenti seketika saat diri meminta tolong tidak akan pernah melangkah sekalipun, tawa
bersama saat berkeluh kesah menghabiskan waktu dengan membicarakan hal abstrak
dalam dunia tak akan pernah dapat dirasa, dan tatapan tajam beliau yang membuat kita merasa teduh tidak akan bisa kita lihat.. Walau hanya untuk yang terakhir kali dalam hidup.
Bapak Sahrur, saya menyesal,
sangat menyesal ketika saya tidak akan pernah bisa ‘salim’ dan mengucap salam
lagi ke Bapak
Bapak Sahrur, saya masih ingin
mendengar nasihat bijak dari bapak, yang membuat saya mengerti juga membuat
saya selalu tersenyum lagi dan menganggap semua masalah ini hanyalah angin
belaka.
Bapak Sahrur, saya masih ingin
melihat senyum bapak, yang selalu ramah dan tampak indah dipandang.
Bapak Sahrur, untuk kesekian
kalinya saya tetap ingin bertemu dengan bapak, dengan sehat dan tanpa kekurangan
apapun dalam diri masing-masing.
Saya sadar.. “Saya Masih Ingin”
adalah pola yang tetap akan berputar seperti itu seterusnya-selamanya-sampai
kapanpun karena kenyataan berkata lain. Beliau sudah tenang, berjalan tegap
dengan balutan pakaian bersih dan putih ditemani malaikat dan dengan tersenyum
bahagia, semoga..
Saya yakin, Surga adalah tempat
yang paling pantas untuk Bapak Sahrur, tempat termulia di sisi-Nya. Dan saya
yakin, inilah yang Beliau mau, kembali pada-Nya dan berdiam di Surga-Nya.
Bapak Sahrur, mungkin tangan tak
akan pernah bisa berjabat lagi, suara tak bisa terdengar, kaki tak akan
bisa melangkah ataupun berhenti, dan tidak akan ada lagi tawa canda disaat
sedang berkeluh kesah bersama, tapi Alhamdulillah, semuanya, semua hal
tersebut sudah tertata-tersimpan rapi dalam memori, dan akan terus berputar
tanpa saya pinta.
Bapak Sahrur, ini bukan perpisahan bagi saya, karena Bapak masih ada dalam hati dan selalu kekal di pikiran saya. InsyaAllah jika memang dikehendaki, mungkin saya dan Bapak bisa berjalan bersama nanti di tangga Surga milik-Nya
Selamat jalan Bapak,
Senja&Hujan yang sedang berduka saat ini akan bahagia esok karena semua
duka tidak harus ditangisi dan semua pun tahu satu lagi Calon Penghuni
Surga-Nya telah datang.
tertanda; Fitria Laily Suci Maharini//Yang
suka bolos jam pelajaran -di SMP- hanya karena ingin curhat ke Bapak Sahrur :")