Hai pencuri hati,
Asal kamu tahu kita masih dalam satu ikatan skenario Tuhan, menari berlagukan misteri-Nya berjalan dalam langkah yang sama tetapi dalam tujuan yang berbeda. Iya, kita berbeda. Duh, bahkan ketika saya mengucap "Kita" untuk menggmbarkan saya dan kamu pun itu terasa berat. Karena memang belum layak untuk disebut Kita.
Entah apa yang saya rasa ini benar nyata adanya atau tidak, karena hati saya pun sedang berputar-putar dalam galaksi yang tak jelas dan tak ada ujung
Bingung untuk mencapai tempatmu dan bingung bagaimana menghentikan perasaan ini, karena saya ingin menjaga hati agar tidak remuk redam kembali untuk kesekian kalinya
Yang saya tahu dan bisa hati ini lakukan sekarang hanyalah diam tak berucap, mengikuti alur skenario ini, yang masih terombang-ambing dalam laut biru beratapkan awan mendung
Mungkin ini terlalu berlebihan tapi ya harus gimana lagi? Ketika hati meminta untuk berjalan sendiri otak pun harus mengalah dan hanya mengintai tanpa harus melakukan apapun untuk mencegahnya.
Berapa ribu kalimat sudah yang mereka bilang pada saya agar menyerah dan melepas ini karena mereka merasa bahwa ini hanya sementara, dan tak akan berlanjut..
Tetapi entahlah, otak saya saat ini sedang berhibernasi dan hanya menunggu laporan akhir dari hati saya, apakah nanti Bahagia atau malah penuh dengan tangisan kembali? Sudahlah, saya ga tahu harus bagaimana, hati saya saat ini benar-benar menjengkelkan karena memaksa berjalan sendiri tanpa beri kesempatan pada saya untuk memilih dan berfikir..
Saat ini yang hanya bisa saya fikirkan, bagaimana kalo pada akhirnya hati saya akan menjadi kepingan yang bergambarkan pola wajahmu? Dan bukannya pola wajahmu yang utuh?
No comments:
Post a Comment